Kamis, 17 September 2015
Rabu, 09 September 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjakan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk dan hidaya-Nya, sehingga kami dapat menerbitkan buku pengangan guru untuk Sekolah Mengah Kejuruan (SMK) Semester 1 tepat pada waktunya yang telah direncanakan. Buku ini berdasarkan Peraturan Mentri No. 22 dan 23 tahun 2006 tantang Standar Isi dan Standar Kopentensi Kelulusan (KTSP).
Buku pegangan guru ini memuat salinan SK Permendiknas Nomor 22 tentang Standar Isi, Silabus, RPP rangkuman materi pokok dengan sajian kopentensi. Pada akhir buku pegangan guru, kami berikan evaluasi (uji kompetensi) yang berisi soal-soal pilihan ganda dan uraian lengakp dengan kunci pembahasan dalam jumlah cukup dengan mutu yang di pertimbangkan. Dengan pola penyajian tersebut, diharapkan buku pegangan guru ini dapat membantu guru dalam kegiatan pembelajaran.
Kami menyadari masi ada kekurangan dalam penyajian. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari bapak/ibu guru akan kami tgerima dengan senang hati guna penyempurnaan buku pengangan guru ini
Hormat kami,
penyusun
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tanaga kependidikan (PPPPTK) ipa merupakan salah satu intansi unit pelaksana teknis yang mendukung suksesnya program BERMUTU (Better Education Through Reformed Management And Universal Teacher Upgrading) kementerian pendidikan nasional. Salah satu kegiatannya adalah mengembangkan modul-modul yang akan digunakan dalam kegiatan di KKG dan MGMP. Berdasarkan identifikasi dari modul yang telah disusun oleh PPPPTK ipa pada program BERMUTU tahun 2012, hasil monitoring masukan para peserta, dan hasil analisis ujian nasional (UN) terkait daya serap topic dalam ipa maka diperlukan adanya modul yang membahas khusus mengenai polusi.
B. Tujuan
Tujuanb penulisan modul ini adalah memfasilitasi guru ipa SMK, khususnya yang tergabuang dalam ipa, supaya :
1. Lebih memqahami tentang polusi
2. Ada bahan pembelajaran yang menjadikan lebih mudah dipelajari
3. Mampu menyususn bahan pembelajaran yang kontekstual
4. Mampu menggunakan media pembelajaran secara tepat
D.
Ruang
Lingkup
Buku modul ini terdiri dari 4 modul.
Masing-masing modul memuat beberapa kegiatan belajar (KB) denagn rincian
sebgai berikut :
Modul 1 Jenis limbah dan penanganannya
KB 1 : pengertian limbah
KB 2 : menyebutkan sumber limbah
KB 3 : pembagian limbah padat
KB 4 : penaganan limbah padat
KB 5 : pengaruh pengolahan sampah
terhadap masyarakat dan lingkuangan
Modul 2 Limbah
berdasarkan wujud dan pemanfaatannya
KB 1 : pengertian limbah cair
KB 2 : macam limbah
KB 3 : macam-macam limbah cair
KB 4 : pengolahan limbah
KB 5 : limbah cair industry
Modul 3 Pencemaran lingkungan
KB 1 : pencemaran lingkungan
KB 2 : pengendalian pencemaran lingkungan
KB 3 : pemcemaran air
KB 4 : kebisingan (polusi suara)
KB 5 : pencemaran tanah
Modul 4 Limbah rumah tangga dan industry
KB 1 : limbah rumah tangga
KB 2 : limbah industry
KB 3 : tahap-tahap pengolahan limbah
JENIS LIMBAH DAN PENANGANANNYA
A. LIMBAH
1. Pengertin Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari sutu proses yang kehadiranya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan. Limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan, sehingga perlu ada penanganan.
2. Macam-macam Limbah
Limbah dikelompokan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Limbah padat/sampah padat yaitu benda yang tidak di pakai, tidak diinginkan dan dibuang yang berasal dari suatu aktivitas dan bersifat padat.
b. Limbah cair, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair.
3. Sumber sampah
Sampah yang ada dipermukaan bumi ini dapat berasal dari beberapa sumber berikut.
a. Permukiman penduduk
Sampah dari suatu permukiman biasanya di hasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota.
Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa (garbage), sampah kering (rubbish), abu atau sampah sisa tumbuhan.
b. Tempat umum dan tempat perdagangan
Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage),sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.
c. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah
Sarana layanan masyarakat yang dimaksud disini, antara lain, tempat hibiuran dan umum, jalan umum, tempat parlor, tempat layanan kesehatan (rumah dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah khusus dan sampah kering.
d. Industri berat dan ringan
Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, empat pengolahan air kotor dan air miniral, dan kegiatan industri lainya, baik yang sifatnya distribusif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.
e. pertanian
sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk , maupun bahan pembasmi serangga tanaman.
Factor-faktor yang memengaruhi jumlah sampah
1. jumlah penduduk.
2. system pengumpulan dan pembuangan sampah yang di pakai.
3. pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali.
4. factor geografis.
5. factor waktu.
6. factor social ekonomi dan budaya.
7. Pada musim hujan sampah mungkin akan tersangkut pada selokan, pintu air atau penyaringan air limbah.
8. Kebiasaan masyarakat.
9. Kemajuan teknologi.
10. Jenis sampah.
1. Pengertin Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari sutu proses yang kehadiranya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan. Limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan, sehingga perlu ada penanganan.
2. Macam-macam Limbah
Limbah dikelompokan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Limbah padat/sampah padat yaitu benda yang tidak di pakai, tidak diinginkan dan dibuang yang berasal dari suatu aktivitas dan bersifat padat.
b. Limbah cair, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair.
3. Sumber sampah
Sampah yang ada dipermukaan bumi ini dapat berasal dari beberapa sumber berikut.
a. Permukiman penduduk
Sampah dari suatu permukiman biasanya di hasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota.
Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa (garbage), sampah kering (rubbish), abu atau sampah sisa tumbuhan.
b. Tempat umum dan tempat perdagangan
Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage),sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.
c. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah
Sarana layanan masyarakat yang dimaksud disini, antara lain, tempat hibiuran dan umum, jalan umum, tempat parlor, tempat layanan kesehatan (rumah dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah khusus dan sampah kering.
d. Industri berat dan ringan
Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, empat pengolahan air kotor dan air miniral, dan kegiatan industri lainya, baik yang sifatnya distribusif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.
e. pertanian
sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk , maupun bahan pembasmi serangga tanaman.
Factor-faktor yang memengaruhi jumlah sampah
1. jumlah penduduk.
2. system pengumpulan dan pembuangan sampah yang di pakai.
3. pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali.
4. factor geografis.
5. factor waktu.
6. factor social ekonomi dan budaya.
7. Pada musim hujan sampah mungkin akan tersangkut pada selokan, pintu air atau penyaringan air limbah.
8. Kebiasaan masyarakat.
9. Kemajuan teknologi.
10. Jenis sampah.
C. PEMBAGIAN SAMPAH PADAT
Sampah padat dapat di bagi menjadi beberapa ketegori, yaitu sebagai berikut.
1. Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya
a. Organik
misalnya : sisa makanan, daun, sayur, dan buah.
b. Anorganik
Misalnya : logam, pecah belah, abu.
2. Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar
1. Mudah membusuk
Misalnya : kertas, plastic, daun kering, kayu.
2. Sulit membusuk
Misalnya : plastic, karet, kaleng.
3. Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk
a. Mudah membusuk
Misalnya : sisa makanan, potongan daging.
b. Sulit membusuk
Misalnya : plastic, karet, kaleng.
4. Berdasarkan ciri dan karakteristik sampah
a. Garbage
Terdiri dari zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas.
b. Rubbish
Rubbish mudah terbakar, misalnya : kertas, kayu, karet. Rubbish tak mudah terbakar, misalnya : kaca, kaleng.
c. Ashes
Semua pembakaran dari industri
d. Street sweeping
Sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin-mesin atau manusia.
e. Dead animal
Bangkai binatang yang mati akibat kecelakaan atau alami
f. House hold refuse
Sampah campuran dari perumahan.
g. Abandoned vehicle
Berasal dari bangkai kendaraan.
h. Demolition waste
Berasal dari hasil sisa pembangunan gedung. Construction waste : berasal dari hasil sisa pembangunan gedung.
i. Sampah industry
j. Santage solid
Terdiri dari benda-benda solid atau kasar.
k. Sampah khusus atau sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif
Limbah menurut sifatnya dapat berbentuk bahan yang dihancurkan oleh organism hidup dan bahan yang tidak dapat dihancurkan. Bahan yang tidak dapat dihancurkan oleh organisme biasanya mengalami akumulasi dalam komponen lingkungan dan akan menimbulkan gangguan kesehatan. Contoh limbah padat, antara lain, logam, kaca, plastic, kayu, kertas, dan lain-lain.
Logam berat
Logaam berat telah banyak mencemari lingkungan setelah diketahui adanya keracunan raksa (Hg) yang dikenal dengan istilah “minamata disease” yang menyebabkan kerusakan saraf. Pada umumnya, terdapat lima sumber logam berat bagi perairan tawar sebagai berikut :
a. (geological weathering)
b. Industry logam
c. Pemakaian bahan logam
d. Logam berat yang berasal dari buangan manusia dan hewan
e. Pencucian bahan logam dari sampah
Zat yang termasuk logam berat antara lain raksa (Hg), cadmium (Cd), timah hitam (Pb), kromium (Cr), dan seng (Zn).
Pengolahan limbah padat
Ada beberapa tahapan didalam pengelolaan sampah padat yang baik, diantaranya, tahap pengumpilan dan penyimpanan di tempat sumber, tahap pengangkutan, dan tahap pemusnahan.
a. Tahap pengumpulan dan penyimpanan ditampat sumber
Sampah yang ada di lokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel dan sebagainya) ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam hal ini tempat sampah. Sampah basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahannya.
Adapun tempat penyimpanan sementara (tempat sampah) yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Konstruksi harus kuat dan tidak mudah bocor
2) Memiliki tutup dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan
3) Ukuran sesuai sehingga mudah diangkat oleh satu orang
Dari tempat penyimpanan ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan kedalam dipo (rumah sampah). Dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk menampung sampah rumah tangga. Pengelolaanya dapat diserahkan pada pihak pemerintah.
Untuk membangun suatu dipo, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, sebagai berikut.
1) Di bangun di atas permukaan tanah dengan ketinggian bangunan setinggi kendaraan pengangkut sampah.
2) memiliki dua pintu, pintu masuk dan pintu untuk mengambil sampah.
3) memiliki lubang vantilasi yang tertutup kawat harus untuk mencegah lalat dan binatang lain masuk ke dalam dipo.
4) ada kran air untuk membersihkan.
5) tidak menjadi tempat tinggal atau sarang lalat dan tikus.
6) mudah dijangkau masyarakat.
Pengumpulan sampah dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu
1) System duet: tempat sampah kering dan tempat sampah basah.
2) System trio: tempat sampah basah, sampah kering, dan tidak mudah terbakar.
b. Tahap pengangkutan
Dari dipo, sampah diangkut ketempat pembuangan akhir atau pemusnahan sampah dengan menggunakan truk pengangkut sampah yang disediakan oleh Dinas Kebersihan Kota.
c. Tahap pemusnahan
Dalam tahap pemusnahan sampah ini, berikut terdapat beberapa metode yang dapat digunakan :
1) Sanitary landfill
Sanitary landfill adalah system pemusnahan yang paling baik. Sanitary landfill yang baik harus memenuhi syarat, yaitu :
a) Tersedia tempat yang luas
b) Tersedia tanah untuk menimbunya
c) Tersedia alai-alai besar
2) Incineration
Incineration atau insinerasi merupakan suatu metode pemusnahan sampah dengan cara besar-besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik. Manfaat system ini antara lain :
a) Volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya,
b) Tidak memerlukan ruang yang luas
c) Panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uap,
d) Pengelolaan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal jam kerja yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Adapun kerugian yang ditimbulkan akibat penerapan metode ini, yaitu :
a. Biaya besar
b. Lokalisasi pembangunan pabrik sukar didapat karena keberatan penduduk.
Berikut adalah peralatan yang digunakan dalam insinerasi :
a. Charging apparatus
b. Furnce
c. Combustion
d. Chimney arau stalk
e. Miscellaneous features
3) Composting
Composting merupakan pemusnahan sampah dengan cara memanfatkanproses dekomposisi zat organic oleh kuman-kuman pembusuk pada kondisi tertentu. Proses ini menghasilkan bahan berupa kompos atau pupuk. Berikut tahap-tahap dalam pembuatan kompos.
a) Pemisahan benda-benda yang tidak dapat dipakai sebagai pupuk seperti gelas, kaleng, besi, dan sebagainya.
b) Penghancuran sampah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil (minimal berukuran 5 cm).
c) Penyampuran sampah dengan memerhatikan kadar karbon dan nitrogen yang paling baik (c : N = 1 : 30)
d) Penempatan sampah dalam galian tanah yang tidak begitu dalam. Sampah dibiarkan terbuka agar proses aerobic.
e) Pembolakbalikan sampah 4-5 kali selama 15-21 hari agar pupuk dapat terbentuk dengan baik. Perlu diingat bahwa galian tersebut jangan sampai menjadi tempat bersarang hewan mengerat atau serangga.
4) Hot feeding
Pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (missal, babi). Perlu diingat bahwa sam[pah basah tersebut harus diolah terlebih dahulu (dimasak atau direbus) untuk mencegah penularan penyakit cacing dan trichinosis ke hewan ternak.
5) Discharge to serwers
Sampah dihasilkan kemudian di masukkan kedalam system pembuangan air limbah. Metode ini dapat efektif asalkan system pembuangan air l imbah memang baik.
6) Dumping
Sampah dibuang atau diletakan begitu saja ditanah lapangan, jurang, atau tempat sampah.
7) Dumping in water
Sampah dibuang kedalam air sungai atau laut. Akibatnya, terjadi pencemaran pada air dan pendangkalan yang dapat menimbulkan bahaya banjir.
8) Individual incineration
Pembakaran sampah secara perorangan ini biasa dilakukan oleh penduduk terutama di daerah perdesaan.
9). Recycling
Pengelolaan kembali bagian-bagian dari sampah yang masih dapat dipakai atau daur ulang. Contoh bagian sampah yang dapat di daur ulang, plastic, gelas, kaleng, nbesi dan sebagainya.
10).Reduction
Metode ini diterapkan dengan cara menghancurkan sampah (biasanya dari jenis garbage) sampai kebentuk yang lebih kecil, kemudian di olah untuk menghasilkan lemak.
11.) salvaging
Pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali misalnya kertas bekas. Bahayanya adalah bahwa metode ini menularkan penyakit.
Tingkatan bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah. Karakteristik dan limbah itu sendiri adalah sebagai berikut.
1). Berukuran mikro.
2). Dinamis.
3). Berdampak luas (penyebaranya).
4). Berdampak jangka panjang (antargenerasi).
Berdasarkan karakteristiknya, limbah industry dapat digolongkan menjadi 4 bagian.
1). Limbah cair, yaitu buangan berupa cairan hasil aktivitas manusia yang berasal dari industry pengolahan dan ekonomi lainya.
2). Limbah padat, yaitu berupa limbah benda yang bersifat padat akibat peggunaan bahan proses yang digunakan manusia.
3). Limbah gas dan partikel, y aitu limgah yang berasal dari peristiwa pemasukan dan atau penambahan senyawa, bahan, atau energi kedalam lingkungan udara akibat kegiatan alam dan manusia sehingga temperature dan karakteristik udara tidak sesuai lagi untuk tujuan pemanfaatan yang paling baik.
4). Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), yaitu limbah apabila mengandung bahan berbahaya atau beracun y ang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung dpat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.
C. PENANGANAN LIMBAH PADAT (SAMPAH)
Suatu system penanganan limbah yang baik harus
memerhatikan bahwa limbah tersebut tidak menjadi tempat berkembangnya bibit
penyakit. Di samping itu penanganan limbah tidak mencemari udara, air atau
tanah tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.
Pengelolaan limbah padat meliputi
pengumpulan sampai dengan pemusnahan dan pembuanganya. Limbah padat yang
mengandung bahan organic dapat membusuk, sehingga pengelolaanya menghendaki
kecepatan baik dalam pengumpulan maupun pemusnahan.
Pembusukan limbah organic dapat
menghasilkan gas CH4 (metan) dan menjadi asam sulfide yang bersifat beracun bagi
manusia.
Limbah padat yang mengandung bahan
organic tidak dapat membus;uk, penangananya sebaiknya di daur ulang.
Pemusnahan limbah padat dapat dengan
cara daur ulang, pembakaran, animal feeding dan lain-lain. Untuk limbah padat yang
tidak dapat membusuk atau mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
menggunakan incinerator. Alat ini terdiri atas
1.
Tungku
bakar,
2.
Ruang
pembakaran,
3.
unit
penbersih gas,
4.
Cerobong
asap.
Dalam penanganan limbah padat, ada 3 hal pokok yang harus
diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1). Penyimpanan sampah (Refuse Storage)
Refuse Storage adalah tempat
pengumpulan sampah sementara. Berikut syarat yang perlu diperhatikan dalam
penyimpanan sampah.
a.
Konstruksinya
kuat dan tidak mudah bocor.
b.
Mudah
dibuka, ditutup dan dibersihkan.
c.
Ukuran
tidak terlalu terlalu besar, sehingga mudah ditangkap.
2). Pengumpulan Sampah
Berikut adalah syarat tempat pengumpulan sampah.
a.
Dibangun
diatas tempat yang tinggi setinggi permukaan kendaraan pengangkut.
b.
Terdapat
dua pintu
c.
Tempat
libang ventilasi tertutup kawat kasa
d.
Terdapat
keran air
e.
Tidak
menjadi tempat tinggal lalat
f.
Lokasi
mudah dicapai
3). Pembuangan Sampah
Teknologi
pemanfaatan dan pembuangan akhir sampah dapat di bagi, sebagai berikut.
a.
Pemanfaatan
sampah dengan teknik pengolahan yang dapat menjadikan sampah sebagai bahan yang
berguna, misalnya pembuatan kompos dan biogas.
b.
Pemusnahan
atau reduksi sampah dengan incinerator dan metode sanitary landfill.
a.
kompos
pengolahan sampah garbage di lakukan secara
biologis dan berlangsung dalam keadaan aerob dan anaerob. Proses dekomposisi
sampah dengan bantuan bakteri akan menghasilkan kompos atau humus. Proses
dekomposisi yang sifatnya anaerob berlangsung relative lebih cepat dari
dekomposisi anaerob dan kurang menimbulkan bau.
1). Secara alami
Proses
pembuatan kompos secara alami dapat dilakukan baik secara tradisional (anaerob)
maupun secara sederhana (aerob).
2). Mekanis
Pembuatan
kompos secara mekanis dilakukan dipabrik untuk menghasilkan kompos dalam waktu
yang singkat.
b.
Gas Bio
Gas bio merupakan bahan bakar yang dihasilkan dari fermentasi
dan proses pembusukan oleh bakteri anaerob terhadap bahan-bahan organic
termasuk kotoran manusia, kotoran hewan, sisa-sisa pertanian, ataupun
campuranya pada alat yang dinamakan penghasil gas bio. Agar efektif, prose
tersebut harus berlangsung dalam kondisi yang baik., misalnya, pada tingkat
kelembapan yang sesuai, suhu yang tetap, dan PH yang netral.
1)
Gas
metan,
2)
Karbon
dioksida,
3)
Nitrogen,
4)
Karbon
monoksida,
5)
Oksigen,
6)
Hydrogen
sulfide.
c.
Incinerator
Incinerator (incinerator) adalah alat untuk
membakar sampah secara terkendali melalui pembakaran suhu tinggi. Incinerator merupakan salah satu
metode yang sulit mendapatkan lahan untuk membuang sampah. Keuntungan metode
ini adalah pembakaran dapat dilakukan pada semua jenis sampah kecuali batu atau
logam dan pelaksanaanya tidak dipengaruhi iklim. suhu yang masih tinggi dalam
incinerator dapat dimanfaatkan untuk menggerekan generator atau mengeringkan
lumpur pada pengolahan air kotor.
Di Negara maju telah banyak dibangun
incinerator modern dengan panas yang tinggi rancangan sedemikian rupa sehingga
dapat membakar relative semua jenis sampah menjadi abu dan tetap menjaga
lingkungan dari pencemaran. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa abu
sisa pembakaran secara berkala harus diambil dan dibuang. Dengaaan demikian,
perlu disediakan tempat khusus untuk pembuangan abu sisa pembakaran.
d.
Sanitary landfill
Semua jenis sampah diangkut dan di buang
kesuatu tempat yang jauh dari lokasi pemukiman. Di tempat tersebut, tumpuksan
sampah di ratkan dan dipadatkan kemudian ditimbujn dengan tanah selapis demi
selapis.
Ada tiga metode yang dapat digunakan dalam
menerapakan teknik sanitary landfill, yaitu sebagai berikut.
1)
Metode
galian parit (trench method)
Sampah dibuang kedalam galian parit yang
memanjang
2)
metode
area
sampah dibuang diatas tanah seperti pada tanah
rendah, rawa-rawa atau pada lereng bukit kemudian ditutup dengan lapisan tanah
yang diperoleh dari tempat tersebut.
3)
Metode
ramp
Merup
Akan teknik gabungan dari kedua metode diatas.
|
D. PENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH
TERHADAP MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN
|
Pengelolaan sampah di suatu daerah akan membawa
pengaruh masyarakat maupun lingkungan daerah itu sendiri. Pengaruhnya tentu
saja ada yang positif dan ada juga yang negative.
1.
Pengaruh
Positif
Pengolaan sampah yang baik
akan memberikan pengaruh positif terhadap masyarakat dan lingkunganya, seperti
berikut.
a.
Sampah dapat dimanfaatkan
untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah.
b.
Sampah dapat dimanfaatkan
untuk pupuk.
c.
Sampah dapat diberikan untuk
makanan ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih
dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.
d.
Pegelolaan sampah meyebabkan
berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga atau binatang pengerat.
e.
Menurunkan kasus penyakit
menular yang erat hubunganya dengan sampah.
f.
Keadaan estetika lingkungan
yang bersih menimbulkan kegairahan hidup masyarakat.
g.
Keadaan lingkungan yang baik
mencerminkan kemajuan budaya masyarakat.
h. Keadaan
lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan suatu Negara,
sehingga dana itu dapat digunakan untuk keperluan lain.
2. pengaruh negative
Pengelolaan
sampah yang kurang baik sebab memberikan pengaruh negative bagi kesehatan, lingkungan,
maupun bagi kehidupan social ekonomi budaya masyarakat, seperti berikut.
a.
Pengaruh terhadap kesehatan
1) Pengelolaan
sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai tempat perkembang biakan
gewan penyebar penyakit, seperti lalat atau tikus.
2) Penyakit
demam berdarah dengue akan meningkatkan karena nyamuk akan berkembang biak
dalam sampah kaleng ataupun ban bekas yang berisi air hujan.
3) Terjadinya
kecelakaan akibat pembuangan sampah secara sembarangan, misalnya luka akibat
benda tajam seperti besi, kaca, dan sebagainya.
4) Gangguan
psikosomatis, misalnya sesak nafas, insomenia, stress, dan lain-lain.
b.
Pengaruh terhadap lingkungan
1)
Estetika lingkungan menjadi
kurang sedap di pandang mata.
2)
Proses pembusukan sampah oleh
mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas tertentu yang menimbulkan bau busuk.
3)
Pembakaran sampah dapat
menimbulkan pencemaran udara dan bahaya kebakaran yang lebih luas.
4)
Pembuangan sampah dalam
saluran pembuangan air menyebabkan aliran air terganggu dan saluran air menjadi
dangkal.
5)
Apabila musim hujan datang,
sampah yang menumpuk dapat menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada
sumber air permukaan atau sumur dangkal.
6)
Akan banjir dapat
mengakibatkan kerusakan fasilitas masyarakat, seperti jalan, jembatan, dan
saluran air.
2.
Terhadap sosial ekonomi dan
budaya masyarakat
1) Pengelolaan
sampah yang kurang baik mencerminkan keadaan social budaya masyarakat setempat.
2) Keadaan
lingkungan yang kurang baik dan jorok akan menurunkan minat dan hasrat orang
lain seperti turis untuk datang berkunjung kedaerah tersebut.
3) Dapat
menyebabkan terjadinya perselisihan antara penduduk setempat dan pihak
pengelola (missal:kasus TPA Bantargebang, bekasi).
4) Angka
kasus kesakitan meningkat dan mengurangi hari kerja sehingga produktivitas
masyarakat menurun.
5) Kegiatan
perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana yang besar sehingga dana untuk
sector lain berkurang.
6) Penurunan
pemasukan daerah (devisa) akibat penurunan jumlah wisatawan yang diikuti dengan
penurunan penghasilan masyarakat setempat.
7)
Penurunan mutu dan sumber
daya alam sehingga mutu produksi menurun dan tidak memiliki nilai ekonomi.
Penumpukan sampah dipinggir jalan menyebabkan
kemacetan lalu lintas yang dapat menghambat trasportasi barang dan jasa.
Langganan:
Postingan (Atom)